Dari awal aku menginjakkan kaki di kota tepian ini sudah selama hampir 3 bulan, sempat sekitar seminggu balik ke desa babulu darat penajam paser utara selama 10 hari. Di samarinda aku menemani mamaku yang sedang sakit kanker servik di rumah sakit umum AWS Abdul Wahab Sjahranie.
# Antrian nomor BPJS
Cerita aku mulai dari antrian bpjs, ada yang menarik saat antrian bpjs di RSUD AWS Samarinda, tempat antriannya berada di pos satpam, antrian di buka mulai pukul 6.00
Pagi Untuk bisa masuk antrian pagi maka sebelum jam 6 pagi sudah mengantri dan antrian di tutup jam 7 pagi dan antrian di lanjutkan di buka pukul 8 pagi di dalam rumah sakit yang artinya akan semakin lama, Orang-orang yang ikut antrian pagi kadang datang jam 5 pagi bahkan ada yang datang jam 3 pagi, yang antri adalah pasien atau keluarga yang mewakili.
Tidak ingin kalah dari yang lainnya aku pun ikut antrian bpjs untuk mamaku. Aku sangat berambisi mendapatkan nomor 1 agar nantinya mamaku tidak terlalu lama untuk di panggil dan melanjutkan ke poli untuk di periksa dokter. Ketika besok mau antrian, jam 8 malam aku sudah tidur dan bangun jam 2 pagi seperti yang aku harapkan.
Karena jarak kos dengan rumah sakit dekat maka aku jalan kaki sesampainya di tempat antrian bpjs aku merasa senang karena belum ada orang. Tapi ternyata sudah ada beberapa botol yang berjajar di depan pintu satpam Botol-botol tersebut sebagai tanda tempat pemiliknya.
kadang orang menaruh helm tas batang pohon batu atau apa saja yang bisa di gunakan sebagai tanda. Dan akupun meletakkan botol aqua milikku yang masih bersegel serta aku bungkus plastik dan aku tempel tulisan di plastik itu dengan tulisan “JANGAN DI PINDAH, ALLAH MAHA MELIHAT”.
Setelah itu aku kembali pulang ke kos dan balik ke pos satpam jam 5.30, ternyata sudah semakin banyak orang dan juga botol-botol yang berjajar di situ saat pintu di buka dan antrian di mulai, orang-orang berlarian ke tempat botol atau tanda mereka masing-masing dan aku dapat urutan nomor 7. Jauh dari harapan.
Salah satu pengobatan yang di jalani oleh mamaku adalah sinar atau terapi sinar. Dari ruang radioterapi aku di kasi kertas untuk meminta jaminan di BPJS (tidak ada hubungannya dengan antrian yang sebelumnya) kertas tersebut yang aku gunakan setiap hari untuk meminta jaminan di BPJS.
Pintu poliklinik rumah sakit di buka jam 7.30 tpi aku dan kawan-kawan seperjuangan yang sama-sama terapi sinar lewat samping dan belakang untuk masuk ke poli dan meletakkan berkas di bpjs sebelum petugas datang.
Yang uniknya itu kami semua selalu dulu-duluan meletakkan berkas di bpjs siapa yang duluan itu yang namanya di sebut pertama untuk dapat jaminan biasa di sebut 10 orang 10 orang dulu.
Untuk mendapatkan nomor urut 1 di radioterapi kami berlari dari bpjs ke ruang radioterapi, rumah sakit aws ini sangat luas jarak antara bpjs ke radioterapi cukup jauh lewat beberap tikungan dan koridor itu untuk mengisi absen dan no urut 1.
Kebetulan jadwal mamaku kena jam 3 jadi harus dapat urutan 5 besar agar tidak pulang kemalaman. Jadwal pagi jam 8 ada 12 orang, jadwal jam 10 ada 14 orang, jadwal siang jam 1 ada 13 orang jadwal sore jam 3 ada 16 orang. Jadwaal berdasarkan jumblah terapi sinarnya.
Seperti mamaku yang dapat 38 sinar jadwalnya jam 3 nanti kalau sudah tinggal sedikit sinarnya misal sisa 10 pindah jam 8 pagi.
#teman baru
Dirumah singgah aku dapat banyak teman di radioterapi juga banyak teman dari yang tua sampai yang muda, ada satu bapak-bapak jadwal jam 3 selalu nomor 1 dan dia di juluki pak rt nya radioterapi tapi sejak aku masuk jadwal jam 3 dia selalu berada di urutan 2 dan aku yang pertama foto pak RT yang ada di sampingku nama aslinya pak mubin.
Di posting selanjutnya aku akan menjelaskan tentang terapi sinar dan kemoterapi yang banyak di takuti orang-orang.





