Hari Yang Menyebalkan

Berawal dari pagi hari yang kurang cerah. Jam dinding menunjukkan pukul 08.00, aku pergi ke depot pengisian air mineral untuk membeli air mineral dan aku membawa dua buah Jeriken (diucapkan jerigen) kapasitas 5 liter. Aku hanya membawa uang Rp.2000 pas-pasan hanya untuk membeli air.

Setelah selesai membeli air aku pun langsung pulang ke rumah membawa dua buah jerigen air yang sudah penuh di tangan kiri dan kananku. Aku pun berjalan dengan santai lantaran jarak antara rumahku dengan depot pengisian air mineral hanya sekitar 50 meter.

Melangkah dengan santai menuju rumah sembari menikmati pemandangan jalan raya yang cukup ramai berlalu-lalang kendaraan. Tiba-tiba ada dua orang anak SMA berboncengan mengendarai motor .

Mereka berhenti 5 meter di depanku dan tiba2 kedua anak itu menoleh ke belakang memandangku dengan tatapan tajam. aku pun tak mau kalah memandang mereka lebih tajam lagi. Dan kami saling memandang.

Anak yang dibonceng di belakang menunjuk sesuatu yang ada di belakangku. Bersamaan dengan itu dia berteriak cukup kencang padahal jarak kami sangat dekat. Dengan melotot dia menunjuk dan berteriak “Om uangnya jatuh tuh”.

Sontak dengan reflek yang sangat cepat aku membalikkan tubuhku dan melihat ke arah belakang yang ternyata tidak ada apa-apa . Seakan waktu berhenti dan aku tersadar, gak mungkin uangku jatuh kan sudah habis dan hanya bawa uang pas-pasan aja.

Seakan waktu kembali berjalan terdengar teriakan anak itu mengatakan “mata duitan mata duitan “ yang terdengar suaranya semakin jauh.

Tak ada yang bisa aku perbuat karena mereka sudah jauh. Aku hanya bisa jengkel dan mengatakan “dasar anak-anak kampret”.

Ucapanku ini di dengar oleh seseorang yang baru keluar dari masjid yang tak lain adalah teman lamaku yang kebetulan mampir ke masjid entah dia menumpang kencing atau sholat.

Dia menceramahiku “met gak baik bilang kampret kamu harus sabar itu ujian lapangkan hatimu”. Aku hanya diam mendengarkan ceramahnya. Selesai dia menceramahiku terlihat dia sibuk mencari sesuatu.

Ternyata sepatunya hilang sebelah. Sebagai teman aku pun menasehatinya, “sabar bro ini ujian kmu harus banyak sabar dan lapangkanlah hatimu” dia hanya tersenyum dan menaiki motornya dan pergi.

Sekitar 5 meter di depanku smartphone miliknya terjatuh dan di lindas mobil. Sadar sesuatu terjatuh dia turun dan mendatangi smartphonenya, sementara aku yang berada lebih dekat dengan smartphone itu hanya bisa melihatnya tanpa ekspresi.

Sempat aku memperhatikan merek smartphone nya samsung dan ku perkirakan harganya jauh lebih mahal dari hp milikku. Aku hanya bisa berkata “sabar bro ini ujian. Sama sekali dia tidak terlihat syok dan perlahan terlihat mulai ada senyum di wajahnya. Pas aku lihat rupanya hp nya masih bisa nyala walaupun layarnya retak 80% .

Setelah kejadian tersebut hari itu terasa begitu cepat gak terasa jam menunjukkan pukul 16.00 sejenak aku berpikir siapa yang mainin waktu tiba-tiba sore. Sejenak aku melamun, pikiranku jauh terbang melayang.

Dalam khayalanku aku berada di jepang tapi berbahasa indonesia. Kok jepang berbahasa indonesia?? Ya suka-suka akulah kan aku yang menghayal.

Lagi asik-asiknya menghayal. Aku di kagetkan oleh dering hp membuat pikiranku yang tadinya ada di jepang langsung kembali pulang. Aku lihat di layar hpku ternyata basir yang menelpon .

Tidak lama berbicara dengan basir tiba-tiba suaranya basir berganti dengan suara yang sudah tidak asing lagi di telingaku . Tidak lain dan tidak bukan suara tersebut adalah suara nasir.

Nasir mengajakku malam ini jalan ke rumah akbar dan mengatakan jangan lupa bawa amplop. Seketika aku berfikir, wah akbar nikah nih tapi ternyata dari penjelasannya nasir jalan aja dulu yang jelas bukan akbar yang nikah dalam hati ku berkata “kebetulan nih siapin perut belum makan dari tadi siang

Di akhir pembicaraan sebelum Nasir memutuskan saluran telpon, ia mengingatkanku untuk berangkat setelah magrib. Nasir mengkhawatirkan nanti bisa terlambat datang.

Mungkin nasir trauma sedikit flashback pernah suatu ketika aku sama nasir datang ke undangan dan kebetulan yang ngundang juga akbar. Nah pada saat aku dan nasir tiba di tempat acara masih sepi dan orangnya masih sedikit. Begitu kami masuk rupanya acaranya sudah selesai dari tadi.

Kembali ke cerita. Kali ini aku dan nasir tidak terlambat sesampai di rumah akbar kami berombongan 6 orang dengan 3 motor menuju lokasi

Belum sampai tujuan di tengah jalan aku ngerasa gerimis. Untuk memastikan aku bertanya ke nasir “sir gerimis kah ini” aku membawa motor dan menoleh ke nasir yang sedang santai ku bonceng “kayanya sih iya” kata nasir. Tiba-tiba bukan gerimis lagi tapi hujan yang deras menghalangi perjalanan kami.

Terlihat dua motor di depan berteduh di warung yang tutup kami pun ikut berteduh. Sekitar 2 jam kami bercanda tawa di bawah langit yang basah, Hujan tak kunjung reda.

Hari sudah mulai larut malam dan rombongan kami yang berjumblah 6 orang memutuskan untuk pulang. Awalnya ragu mau terus atau pulang. Bila kami terus sampai tujuan akan basah dan pasti malu basah-basah ke tempat acara.

Sepanjang perjalanan pulang hanya guyuran hujan dan suara motor yang menemani kami, tak ada satu pun cahaya karena lagi ada pemadaman listrik.

Dalam perjalanan pulang aku dan nasir masih sempat ngobrol beberapa obrolan di atas motor “met cerita malam ini apa judul postingan yang kamu buat nanti” “aku belum tau sir saat begini susah mikir”

Sampai dirumah Seluruh pakaianku luar sampai dalaman tak tersisa di guyur hujan. Usai berganti pakaian. Bantal guling dan selimut sudah merindukanku .

Kupasang handset dan ku dengarkan beberapa lagu yang sudah aku setel mati otomatis setelah 10 lagu, Terasa semua beban hilang dan inilah judul yang aku buat.

The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar