kembali ke rumah irfan
Mendengar cerita nasir tersebut kami semua tertawa sambil membayangkan situasi dan kondisi kejadian. Kami merasa sudah terlalu lama di rumah irfan akhirnya kami memutuskan untuk pamit dan melanjutkan perjalanan. Rumah M.akbar Sesampai di rumah akbar, kami malu-malu untuk masuk karena banyak orang. Dan tentu saja karena nasir yang lebih akrab dengan keluarga akbar maka tanpa ragu-ragu aku mendorongnya untuk masuk lebih dahulu dan kami mengikuti di belakangnya. Di dalam rumah akbar kami bersalaman dengan orang-orang yang ada di situ. Setelah sejenak kami duduk-duduk dan makan cemilan akbar tak kunjung keluar menemui kami. Aku ingat semalam akbar menulis status facebook kalau dia sedang sakit Tak beberapa lama kemudian basir sms menyuruh kami masuk dan menemui akbar yang sedang sakit entah bagai mana kondisinya. Setelah masuk ke dalam aku sangat tidak menyangka melihat kondisi temanku ini, teman yang dulu selalu sama-sama saat sekolah teman satu geng di sekolah. Kini kondisinya tak memakai baju dan bersandaran di tembok sambil makan cemilan, maklum jomblo gak ada bahu untuk sandaran maka temboklah tempatnya bersandar. Aku mendekat dan menyapanya sungguh aku sangat prihatin melihat kondisinya , kemudian aku mengajaknya untuk duduk bersama dan mengobrol dengan kami. Dia pun duduk bersama kami dan beberapa makanan di suguhkan untuk kami. Tapi aku lebih tertarik dengan cemilan yang warna orange yang mirip dengan stik di restoran. Tapi hal membosankan pun terjadi masing-masing di antara kami sibuk dengan hp masing-masing terutama akbar yang mementingkan main games dari pada ngobrol dengan kami, dan aku menyuruhnya untuk tidak main games dan kembali ngobrol dengan kami. Terlihat di sudut yang lain basir dan adit berbincang-bincang dan asik ngobrol dengan teman yang lain yang kebetulan ada di situ. Di situ juga ada teman basir yang cewek samar-samar terdengar dengan jelas mereka membicarakan dan menyebut namaku. Sepertinya teman basir yang cewek itu menanyakan kepada basir siapa aku. Di antara yang lain penampilanku lebih mencolok lebih terlihat seperti ustadz menggunakan baju muslim celana panjang serta peci warna biru. Yah sepertinya cewek itu mau berkenalan denganku tapi kurasa dia malu-malu. Waktu untuk sholat jumatan pun tiba dan aku mengajak teman-teman untuk sholat jumat di masjid tapi hanya akbar yang menolak. Usai sholat jumat perut terasa lapar, kami melanjutkan perjalanan dan kami parkir depan rumah nasir, rencana mau mampir ke rumah guru sd kami yaitu bu dewi yah aku merasa bersalah karena beberapa waktu lalu aku menolak pekerjaan yang ia tawarkan. Kami berjalan kaki menuju rumah bu dewi tapi ternyata rumahnya tutup kayanya gak terima tamu atau sedang bepergian. Dan kami pun menuju rumah tetangga nasir. Kata nasir ia di undang ke rumah orang itu setelah setelah sholat ied tapi malah datang usai jumatan Kami di persilahkan masuk duduk-duduk sambil menunggu bapaknya pulang jumatan dan tak ada cemilan yang bisa kami makan. Beberapa saat menunggu bapaknya datang. Tak di sangka-sangka kami di kasi makanan yang lumayan buat kami kenyang masih hangat dan cocok di makan saat hujan seperti saat ini. Usai kami makan dan perut juga sudah kenyang serta hujan juga sudah reda. Kami pamit dan melanjutkan perjalanan, sesaat kami sempatkan untuk mampir ke rumah pak irawan, tak lama di situ kami hanya bersalaman dan kemudian pamit melanjutkan perjalanan Aku mulai memasukkan kunci kontak motorku sedikit mendorong ke depan dan memutarnya ke arah kanan setelah itu aku menekan tombol star dan motorku menyala menekan tuas kopleng injak masukkan gigi satu lepaskan kopleng bersamaan dengan menarik tuas gas pada tangan kanan buat yang belum tau itu cara menyalakan dan menggunakan motor kopleng. Tujuan kami rumah pak nasib guru MTs kami entah kenapa aku malah stop di depan jalan masuk SMA saat itu tapa sengaja kami bertemu dengan bagas sedikit ngobrol-ngobrol gak penting bagaspun pergi kayanya dia lapar dia tadi bilang mau cari makan. Berhubung kami ada di depan SMA sekalian aja kami mampir tempat guru kami. Awalnya mau ke rumah bu messi tapi tutup kata nasir bu mesi gak terima tamu kami belok kanan menuju rumah bu ani Rumah bu ani Setelah mengucap salam suami bu ani mempersilahkan kami masuk. Awalnya bu ani tidak mengetahui kalau kami yang datang adalah muridnya setelah ia keluar dan menyapa kami dan menyebut namaku dan nasir saja untung ia masih ingat denganku dan lupa dengan rizal. Tidak banyak yang bisa kami obrolkan di situ kami banyak diamnya, sesekali aku menanyakan kabar guruku dan ia hanya menjawab dengan singkat, kemudian aku mencoba menanyakan keberadaan guru yang lain. Lagi-lagi jawaban yang cukup singkat yang kami dapatkan. Kami saling melirik isyarat lanjutkan perjalanan, kami pun berpamitan dan tujuan rumah berikutnya adalah rumah mom jane guru bahasa inggris kami. Karena rumahnya berdekatan jadi kami memutuskan berjalan kaki. Belum sampai kami di rumah mom jane kami melewati rumah pakle chen atau warung bule yang biasa jadi tempat kami nongkrong sedikit nostalgia saat berdiri di depan rumah bule warung langganan kami dan kami memutuskan untuk mampir di rumah bule warung / pakle chen Kami menanyakan keberadaan pakle chen kepada anaknya yang kebetulan juga baru pulang ke rumah dan anaknya mengatakan bapaknya ada di dalam dan menyuruh kami masuk setelah bersalaman dengan anak dari pakle chen. Setelah kami ucapkan salam terdengar suara khas bule yang menjawab salam dan kami mmasih seperti anak-anak yang saling dorong untuk masuk duluan. Terlihat wajah bahagia dari bule dan pakle chen melihat kedatangan kami. Panjang lebar cerita kami uraikan di tempat yang penuh kenangan bagi kami, pakle dan bule juga menanyakan tentang beberapa teman yang lain dengan santai kami menjawab sambil menghisab rokok. Tak lama bule keluar dari dapur membawakan kami soto seperti yang biasa kami makan dulu bedanya kali ini pakai lontong kalo dulu pakai nasi, sungguh kami rindu dengan masakan bule, walaupun masih kenyang karena sebelumnya sudah makan soto bule tetap juga habis kami gentak. Usai kami makan dan sedikit ngobrol-ngobrol kami pamit dan melanjutkan ke rumah mom jane. Sesampai di rumah mom jane ternyata pintunya tertutup beberapa kali ketukan pintu dan salam tak ada jawaban, terlihat juga rumah pak lukman juga seperti tidak ada orannya. Dan kami melanjutkan perjalanan kerumah bu mesi yang ada di depan sekolahan. Sambil melewati halaman sekolah kembali kenangan semasa sekolah terlintas di otak Kabar dari bule warung tadi mengatakan kalau bu mesi ada di dalam rumah jadi aku memutuskan untuk mendorong motorku dan mematikan mesinnya karena kabarnya bu messi punya anak bayi takutnya mengganggu. Sesampai di depan rumah bu messi aku mengenang masa lalu bersamanya aku merasa banyak salah dan banyak dosa dengannya sedikit aku meneteskan air mata kesedihan mengenang akan kesalahanku padanya. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju pintu rumahnya dan mengetuknya. di rumah bu messi Setelah beberapa kali salam dan ketukkan pintu suaminya membukankan pintu untuk kami terlihat bu messi di dalam rumah menatap kami dengan pandangan yang khas dan tidak bisa kami lupakan sungguh sangat membekas di lubuk hati. Dengan takut dan jantung berdebar-debar kami perlahan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dinding kiri dan kanannya terbayang berbagai macam angka rumus debit dan kredit serta rasa pusing menyerang kepalaku. Setelah kami di persilahkan duduk bu mesi menanyai kami satu per satu apa kegiatan kami saat ini. Ia bertanya mulai dari nasir karena ia yg terdekat dengan bu mesi Dengan grogi dan penuh ketakutan nasir pun menjawab pertanyaan bu mesi, cara ia bertanya masih sama seperti saat ia bertanya tentang pelajaran dulu nasir mengatakan kegiatannya bekerja membantu orang tuanya di kebun. Selesai bertanya dengan nasir kini beralih bertanya kepada adit yang posisinya pas duduk di samping nasir. Dan tanpa rasa takut adit menjawab pertanyaannya ia mengatakan bahwa ia masih sekolah di SMA N 4 PPU. Menunggu giliran di tanya jantungku mulai berdegup kencang seakan memompa darah dengan kecepatan 100 MBps serta aliran cakraku mulai tidak stabil. Kini giliran samsir yang di tanya, samsir yang tak tau apa-apa bingung mau menjawab apa sampai akhirnya nasir mengatakan kalau samsir adalah adiknya, dengan santai bu messi menjawab kok gak mirip. Akhirnya giliranku di tanya pun tiba, melihat matanya seakan aku terkena genjutsu tak bisa berkutik apa-apa perlahan aku menjawab kegiatanku membuka jasa pembersih kendaraan roda dua. Kemudian dia bertanya apakah aku kuliah atau tidak dan aku menjawab tidak. Setelah itu ia menceramahiku entah apa yang dia katakan, aku gak ingat lagi, konsentrasiku terpecah dan blenk. Kini giliran rizal yang di tanya, dengan sedikit terbata-bata ia menjelaskan bahwa ia kuliah. Ada yang menarik di sini. Setelah bu messi ceramah panjang lebar kepada rizal bu mesi menanyakan “kamu dendam gak sama ibu dulu sering di marah-marahi” aku merasa pertanyaan itu juga tertuju padaku secara tidak langsung karena dulu aku juga sangat sering di marahi sama bu messi. Rizal pun terdiam sejenak dan menjawab dengan jawaban yang luar biasa “ kalo saya dendam bu saya gak mungkin datang ke sini” sungguh jawaban itu juga mewakili jawabanku, aku pun tepuk tangan untuk rizal di dalam hati. Singkat cerita kami melanjutkan perjalanan kami ke arah labangka di rumah pak nasib Sesampai di halaman rumah pak nasib guru MTs kami, terlihat ia masih ada tamu di dalam rumahnya dan ketika kami mengucapkan salam dan masuk ke dalam, tamu tersebut yang terdiri dari satu keluarga langsung pamit pulang, menurutku mereka merasa terusir dengan kedatangan kami. Kami duduk dan bersalaman dengan pak nasib belum sempat kami bertanya kabarnya ia langsung menceramahi kami tentang membayar zakat. Tentu kami bingung gak tau apa-apa kok sudah membicarakan zakat. Rupanya ia menjelaskan kalau pada saat kutbah idul fitri ia ceramah tentang zakat katanya sih ceramahnya kali ini lebih keras entah itu keras dari segi penyampaiannya atau suaranya yang keras Tentu kami gak tau karena kami gak dengar ceramahnya sesekali aku melemparkan pertanyaan kepadanya kaya ceramah-ceramah di youtube itu yang tanya jawab. Kami merasa bosan dan mencari cela saat ia diam untuk pamit. Akhirnya kami bebas dari ceramahnya dan menlanjutkan perjalanan ke rumah mas dani. di rumah mas dani Mas dani adalah bos kayunya nasir dan basir. Sesampai di rumah mas dani nasir masuk duluan dan mengatakan kalau ia bawa anggota dan karena kami anggotanya nasir maka kami di suruh masuk dan bersalaman dengan orang di rumah itu. Kami bercerita panjang lebar tapi aku dengan kemampuan instingku sedikit merasa aneh dan janggal dari awal kedatanganku mas dani ini sering melirik dan melihat ke arahku. Akhirnya ia mengatakannya juga. Ia mengenaliku sebagai jasa pembersih kendaraan roda dua dan ia sering melihatku. Aku gak menyangka kalo aku terkenal. Ia pergi ke dapur tak lama kembali dengan membawakan kami soto ayam. Sepertinya ia tau kalau kami lapar, satu per satu di antara kami mendapat bagian masing-masing. Kami pun menikmati makanan tersebut. Saat makan aku merasa kepedasan namun tidak melihat adanya air putih di hadapan kami dengan sangat terpaksa aku meminum coca cola yang ada di depanku dan setelah aku minum coca cola barulah air putih di sediakan. Tak lama ia kedatangan tamu dan kami merasa terusir dengan kedatangan tamu tersebut, mungkin itu balasan untuk kami, mungkin itu yang di rasakan oleh tamu pak nasib yang merasa terusir dengan kedatangan kami. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah guru kami dan beberapa teman kami yang ada di labangka juga hari mulai sore sudah sekitar jam 17.30. Rumah berikutnya yang kami datangi adalah rumah pak agus. Sesampainya di rumah pak agus pintunya terbuka lebar tapi salam dan panggilan kami tak ada jawaban dari dalam rumah beberapa menit berlalu tak ada yang keluar rumah dan kami putuskan untuk pergi dari situ Kami menuju tempat kerja risal yang tempatnya tidak terlalu jauh dan melewati rumah ojan sesampai di tempat kerja risal ternyata risal baru aja pulang, seharusnya kami berselisihan tapi kami tidak melihat. Perjalanan menuju rumah risal kami mampir di rumah ojan akan tetapi hanya di pinggir jalan aja beberapa menit kami ngobrol di situ terlihat di pinggang ojan ada sebuah golok katanya ia habis dari makam. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju rumah risal di rumah risal Sesampai di halaman depan rumah risal aku malas memanggilnya aku hanya membunyikan klakson motorku dan sepertinya risal mendengarnya dan keluar rumah kemudian kami di persilahkan masuk. Kami ngobrol dan saling menanyakan kabar tak lama instingku merasakan adanya aroma makanan yang mulai mendekat. Benar saja tak lama keluarga risal membawakan buras untuk kami. Sebenarnya kami masih kenyang tapi aku dan nasir tetap makan supaya piringnya kotor dan risal ada kerjaan cuci piring. Kemudian nasir mengeluarkan coca colanya yang ia ambil ketika di rumah mas dani tadi. Waktu sudah menunjukkan jam 18.20 kami pun memutuskan untuk pulang setelah berpamitan dengan risal kami langsung tancap gas pulang. Tapi aku tidak langsung pulang. Aku harus mengantar nasir ke rumahnya, aku ingat tadi mama nya nasir menyuruhku mampir karena ada bekal mau di berikan kepadaku. Lama aku menunggu dan penasaran apa yang akan di berikan oleh mamanya nasir. Dan setelah aku mendapatkan bekal itu aku langsung pulang ke rumah tanpa mampir kemana-mana karena sudah magrib sekian
▼
Di Hari Lebaran Berburu Makanan Bersama Teman-teman Yang Tak Terlupakan
Sebelumnya di catatan si Memet :
Cerita Diary si Memet sebelumnya menceritakan kegiatan memet bersama nasir yang di lakukan sehari sebelum hari lebaran 2018 cerita tersebut tidak lepas dari tingkah konyol kocak dan mengundang gelak tawa.
Sholat Idul fitri atau sholat ied di wilayahku di selenggarakan bukan di masjid melainkan di tanah lapang yang terdapat di belakang apotek satria babulu darat.
Karena sandalku masih baru di belikan mamaku beberapa hari yang lalu jadi aku memutuskan untuk tidak memakai sandal, dan aku juga tidak memakai sandal yang lama soalnya sayang juga kalau hilang.
"
Usai sholat ied aku baru ingat kalau kemarin mamanya nasir mengundang aku untuk datang ke rumahnya karena ada acara di rumahnya, ini waktu yang tepat dari tadi malam aku memang belum ada makan.
Aku panaskan motor Jupiter MX King blue silver milikku, setelah kuyakinkan mesinnya sudah hangat segera aku menekan tuas kopleng kemudian menginjak tuas gigi motor untuk memasikkan gigi satu dan aku tarik tuas gas motor perlahan bersamaan melepas kopleng dan dengan ajaib motorku jalan (buat yang belum tau itu cara menggunakan motor kopleng)
Sesampai di rumah nasir suasana sepi sunyi senyap gak ada suara pintu maka terbuka lebar, dengan sopan aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam serta menyebut nama nasir dan mamanya nasir menyambut dan mempersilahkan aku duduk
Ternyata nasir bersama basir juga samsir serta bapaknya semua belum pulang sholat ied, aku duduk dan si suguhi beberapa toples makanan ringan. Ku dengar-dengar di masjid masih kutbah wah lama ini pikirku.
Aku menunggu sambil main hp dan menikmati cemilan yang ada di depanku sementara mamanya nasir sibuk di dapur, karena takut cemilan yang aku makan habis maka aku berganti ke cemilan yang lain
Cemilan itu tidak menghilangkan rasa laparku tak lama kemudian nasir dan basir datang aku pun berdiri dan mempersilahkan mereka masuk dan duduk seolah-olah aku yang punya rumah dan tak lupa mempersilahkan mereka menikmati cemilan yang tinggal sedikit karena ku makan, adegan ini sudah aku pikirkan akan aku Praktekkan saat mereka datang.
Singkat cerita acara makan-makan di mulai di situ sudah ada rizal selesai kami makan dilanjutkan dengan rokok dan datanglah adit dengan mamanya yogi tetangga dekat rumah nasir, mereka masuk dan bersalaman dengan kami yang ada di situ.
Adit menikmati hidangan yang ada sementara mamanya yogi tidak berlama-lama dan pamit pulang mamanya yogi bersalaman dengan orang tua nasir dan yang lainnya saat aku mengacungkan tangan niat bersalaman tapi di abaikan aku melirik ke nasir sepertinya hal yang sama juga terjadi padanya.
Selesai acara di rumah nasir kami ber6 aku nasir basir samsir rizal serta adit jalan-jalan bersama dengan formasi 3 motor aku bersama nasir satu motor basir dan samsir serta rizal dan adit.
Rumah pak pendi
Rumah pertama yang kami Datangin adalah rumah pak pendi guru MTs kami, tentu kami di sambut dengan baik dan di suguhi berbagai macam makanan dan minuman, karena dia guru TIK maka obrolan kami seputar internet sedikit membicarakan channel youtube kami tapi bapaknya gak subscribe kami juga ngobrolin tentang paytran yang sedang di garap oleh pak pendi.
Rumah Irfan maulana
Rumah ke dua yang kami datangi adalah rumah Irfan maulana dia salah satu anggota LGS sebelum sampai rumah irfan kami lewat rumah anggit sekilas tidak ada penampakan anggit maka dengan cuek kami lewati
Belum juga sampai di rumah irfan basir kebelet pipis dan mengajak samsir menemaninya ke toilet masjid sementara kami menunggu di pinggir jalan sambil berdiri petantang petenteng banyak gaya.
Tiba-tiba.
“nasir mampir kerumah” seseorang memanggil nasir dan kami semua menoleh ke arah suara tersebut yang tidak lain adalah mamanya irfan
Langsung kami bersalaman dan menanyakan irfan yang ternyata lagi ada di rumah Mbah nya, tak lama ibunya irfan menyuruh salah satu anak kampung situ untuk memanggilkan irfan
Nasir pun membuat asumsi sendiri “paling irfan di rumah itu lagi makan, baru makanan mau masuk mulut eh sudah di panggil” jelas nasir sambil mempraktekkan apa yang dia katakan.
Ternyata benar saja. Saat aku menulis postingan ini aku menanyakan apa yang di lakukan irfan di rumah itu melalui whatsapp. Irfan mengatakan dia sedang makan di rumah itu. Sorry kami mengganggu santapan pagimu fan.
Kemudian kami ber6 diajak ke rumah irfan, di situ ada satu keluarga yang bertamu di rumah irfan nasir masuk duluan dan aku menyusul di belakangnya aku melihat nasir menjulurkan tangannya kepada seorang ibu tamu di situ tapi itu hanya menyatukan telapak tangannya dan bersalaman dari jauh tidak ingin di sentuh
Aku pun tidak meniru yang nasir lakukan aku pun menyatukan telapak tanganku dan bersalaman dari jauh seperti di mahabarata tapi sayangnya kawan-kawan di belakang tidak meniruku mereka menjulurkan tangan seperti yang nasir lakukan . Di cucuk kepalamu pakai paku dari api neraka itu lebih baik dari pada bersentuhan dengan yang bukan mahram kata ustadz somad.
Kami di rumah irfan bercerita dan tertawa bersama itu adalah satu hari di mana kami semua bisa berkumpul terlepas dari kesibukkan kami masing-masing.
Cerita spesial nasir dan basir kisah nyata
Di rumah irfan l, nasir menceritakan pengalamannya di kebun bersama basir adek tersayangnya. Pernah suatu ketika nasir dan basir kerja merintis di kebun orang, awalnya mereka bekerja seperti biasa.
Tempat yang mereka rintis terdapat beberapa sarang tawon, beruntung basir bisa mengetahui di lokasi itu ada sarang tawon sebelum di sengat sehingga bisa menghindar lebih dahulu
Namun naas nasir tak seberuntung basir, ia mengetahui adanya sarang tawon setelah mendapat sengatan tawon di bagian punggungnya andai tawon itu gak menyengatnya dia tidak tau kalo dinsitu ada sarang tawon
Tapi mereka berdua gak semudah itu di kalahkan oleh tawon. Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaannya dan lagi-lagi basir berhasil menghindar dari sengatan tawon dan naas kembali menimpa nasir mendapat sengatan tawon pas-pas di biji matanya. Sehingga nasir terlihat sipit seperti orang cina. Tapi ternyata masih sengsara basir, sekali kena sengatan tawon gak tanggung-tanggung langsung satu badan.
Basir membakar kebun tersebut namun tidak seluruhnya mungkin basir dendam sama tawon itu. Basir pun ingat masa lalu pernah bekerja dengan temannya membakar lahan karena tidak di jaga api membesar dan merambat ke lahan tetangga
Kebetulan ada ambulan lewat bunyi sirene nya sama kaya polisi sekalian aja basir menakuti temannya bahwa itu polisi yang akan menangkapnya. Api pun di matikan dengan air galon air habis api belum padam
Takut hal itu terulang kembali basir menyuruh nasir ambil air untuk mematikan api yang di buat basir, karena di situ hanya ada air minum 1 botol sekitar 1 liter nasir sangat tidak rela bila air itu di pakai memadamkan api. Akhirnya api padam sebelum nasir sampai membawa air di pelukannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar