Malam itu aku sendiri di rumah, mama ku lagi ke Balikpapan buat berobat. Malam itu kabarnya yang aku dengar mamaku akan menjalani operasi biopsi di rumah sakit gunung malang Balikpapan dan aku hanya bisa berdoa dari rumah.
Lantaran sepi aku menghubungi nasir dan basir mengajaknya untuk bermalam di rumahku. Sekitar jam 8 malam mereka tiba di rumahku. Rasanya menyenangkan jika ada mereka. Dan kami bertiga berbincang-bincang hingga larut malam.
Esokan paginya bule ku yang tinggal di samping rumahku menyuruhku berangkat ke balikpapan aku pun memberi tau nasir dan basir, dan nasir membangunkan basir yang masih terlelap tidur. Mau tidak mau mereka harus angkat kaki dari rumahku karena akan di kunci.
Aku pun menunggu angkutan umum di depan rumahku. Terlihat nasir dan basir masih duduk-duduk di depan rumahku sambil berbicara sesuatu yang tidak dapat aku dengar. Tak lama mereka menaiki motor mereka dan melambaikan tangan kearahku dab aku pun melambaikan tangan kearah mereka.
Tak lama setelah itu terlihat dari kejauhan angkutan umum yang aku tunggu-tunggu, aku melambaikan tangan ke arah angkutan umum tersebut dan berhenti tepat di depanku.
Aku pun naik dalam angkutan umum tersebut, butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke penajam setelah itu nantinya akan menyeberangi teluk Balikpapan menggunakan kapal kelotok.
Dalam angkutan umum tersebut terdiri dari delapan bangku di belakang serta dua bangku di samping supir terlihat tiga orang di deretan belakang tertidur sangat lelap dan 3 bangku di depannya di isi oleh ibu muda yang menggendong bayinya.
Aku pun duduk di samping ibu itu.
“Mau ke mana mas” tanya ibu itu padaku.
“kebalikpapan mba” jawabku singkat
“mau ngapain mas kalo boleh tau” tanya ibu itu lagi.
“ada urusan keluarga mba” jawabku” mba sendiri mau kemana” aku bertanya balik.
“mau ke balikpapan mas ada urusan keluarga juga” aku hanya membalas dengan senyuman.
Aku bergumam dalam hati, apakah ibu ini tidak bisa merangkai dan menyusun kata-kata atau apakah ia tidak punya jawaban yang lain sehingga harus mencontek jawabanku. Ibu itu berusia 22 tahun aku melihat dari KTP nya saat ia membuka dompetnya.
Beberapa saat sepi dan sunyi semua penumpang tertidur kecuali aku supir dan ibu tadi. Tak beberapa lama ibu itu tertidur dan kepalanya tersandar di bahuku. Jelas aku terkejut tapi tidak tega membangunkannya.
Tak berapa lama supir menghentikan mobil karena ada yang mau naik dan satu-satunya bangku yang kosong ada di sebelah kiriku. Ternyata itu seorang wanita muda dan cantik dia kawan lamaku, ia duduk di sampingku dan hal pertama yang ia tanyakan adalah
“met ini istri dan anakmu kah” temanku menunjuk ibu yang tidur bersandar denganku.
“bukan, gak tau siapa” jawabku dengan nada pelan.
Perjalanan masih cukup jauh orang-orang masih tertidur tak lama temanku ini ikutan menyandarkan kepalanya di bahu kiriku dan berkata “numpang bantalan ya met ngantuk nih” aku hanya diam tanpa menjawab apa-apa. Supir di depan melihatku dari kaca spion dan mengacungkan jempol kearahku
Aku teringat perkataan ustadz abdul somad di tusuk paku besi dari api neraka lebih baik dari pada bersentuhan dengan yang bukan mahram.
Tak lama sampai penajam dengan pelan-dan berhati-hati aku memindahkan kepala ibu di samping kananku dan aku sandarkan di dinding mobil.
Kemudian aku berusaha memindahkan kelapa temanku di bahu kiriku dengan pelan-pelan dan hati-hati baru aku sentuh kepalanya temanku ini sudah menegurku
“jangan macam-macam met jangan ambil kesempatan dalam kesempitan” katanya.
“bukan gitu kampret, aku Cuma mau memindahkan kepalamu aja berat tau risih rasanya” jelasku padanya
Temanku ini mengangkat kepalanya dan sedikit cemberut memandangku tiba-tiba supir meninjak lubang dan membuat semua orang kaget dan terbangun dan aku merasa kasihan dengan ibu tadi kepalanya terbentur terlihat ia kesakitan tapi aku cuek aja.
Setelah turun di penajam aku menghampiri temanku tadi dan memberinya teh kotak sebagai permintaan maaf soalnya sejak di mobil ia cemberut dan tak mau menegurku. Ia pun menerima teh itu sambil aku utarakan maafku dan aku pun meninggalkannya berjalan santai menuju kelotok.
Setelah aku membeli tiket dan akan turun ke kelotok aku melihat temanku tadi ada di belakangku.
“kamu ngapain megikuti aku” tanyaku padanya.
“aku mau ke Balikpapan dan naik kelotok” jawabnya
Temanku turun lebih dahulu dan aku membantu memegangnya setelah itu ia dibantu oleh mas-mas di kelotok. Aku merasa aku tidak perlu di bantu dengan yakin aku melompat ke kelotok yang bergoyang karena ombak. Tapi aku terpeleset dan jatuh syukur jatuhnya gak ke laut. Sakitnya gak seberapa tapi malunya gak ketolongan.
Di kelotok aku duduk bersama temanku tadi sambil berbincang-bincang dan menikmati minuman masing-masing. Tiba-tiba aku merasa lapar dan dengan kebetulan temanku menawarkan aku roti yang ia bawa sangat banyak tanpa basa basi aku menerima roti darinya.
Di kelotok aku memperhatikan beberapa buruh angkut betapa payahnya mereka mencari uang untuk keluarganya, Rata-rata dari mereka tidak memiliki pendidikan tinggi paling mentok sd atau smp.
Kerjaan mereka kadang membawakan barang penumpang dan meminta bayaran seikhlasnya atau menaik-turunkan motor ke kelotok
Sesampai di kampung baru Balikpapan kami berpisah. Dia duluan dan aku menunggu jemputan dan tak berapa lama datanglah omku menjemputku dan kami langsung ke RSUD gunung malang balikpapan
Omku kan orang balikpaapan dia pasti tau dimana rumah sakitnya, tapi semua tidak seperti yang aku bayangkan dia tau daerahnya tapi gak tau di sebelah mana rumah sakitnya. Akhirnya semua jalan di lewatin dan di coba satu-satu
Menyerah mencari tak dapat akhirnya cara terakhir tanya orang, sampai 6 kali bertanya tak juga sampai. Sambil aku memperhatikan setiap plang yang ada akhirnya aku menemukan tulisan RSUD dan sampailah di rumah sakit ternyata rumah sakitnya dari awal tadi sudah kami lewati.
Bersambung.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar