Diary si Memet : Petualangan di hari lebaran 2019 part 1

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Postingan kali ini aku akan menceritakan perjalanan lebaran ku ke rumah orang-orang serta mereview makanannya walaupun tak semua.

Subuh itu aku terbangun terdengar sayup-sayup lantunan Takbir yang menggema. Aku terbangun dengan mata yang masih mengantuk kucoba untuk meninggalkan tempat tidurku yang nyaman, aku mengambil handuk dan pergi untuk mandi.

Selesai mandi aku mengenakan pakaian terbaikku di hari lebaran itu. Aku berdiri di depan kaca memandangi diriku kuperhatikan wajahku sambil berkata “ternyata aku ganteng juga ya”.

Sambil menunggu orang berdatangan memenuhi masjid aku mengambil satu bungkus sachet Luwak White Coffee. Aku Panaskan air hingga mendidih dan ku Seduh Luwak White Coffee.

Setengah jam berlalu tak terasa kopiku sudah dah mau habis kulihat dari jendela orang sudah pada berdatangan ke masjid dan akupun mengambil air wudhu dan pergi ke masjid.

Masjid yang letaknya berada di samping rumah aku sangat terjangkau untuk aku capai dan aku sengaja tidak menggunakan sandal takut nanti sendal ku hilang.

Sunnah nya pulang dari sholat ied harus melewati jalan yang berbeda, lantas membuatku sedikit bingung harus pulang lewat mana karena jalan yang aku lalui adalah jalan satu-satunya untuk pulang dan pergi. Jadi aku putuskan pulang loncat pagar. Pagar tersebut adalah pembatas antara rumahku dan masjid.

Selesai sholat aku sungkem dengan keluargaku meminta maaf lahir dan batin seperti orang-orang lebaran pada umumnya. Setelah itu aku memanaskan motor Jupiter MX King milikku dan bersiap-siap untuk pergi.

Ketika aku sedang memanaskan motorku, ada temanku yang kebetulan lewat di depan rumahku dan aku memanggilnya untuk mampir sejenak. Kami bersalaman saling memaafkan seperti orang-orang lebaran pada umumnya.

Namun karena ia tak bisa berlama-lama segera ia pamit untuk pulang karena sudah ditunggu oleh orang tua dan keluarganya, karena searah aku menawarkannya ikut bersamaku ku antarkan pulang namun ia menolak dan lebih memilih untuk jalan kaki.

Tak lama setelah itu aku pergi kerumah nasir, sampai di rumah nasir suasana begitu sepi dan aku sempat berfikir jangan-jangan ini prank lebaran. Terlihat pintu rumahnya terbuka dan aku mengucapkan salam yang biasa di ucapkan oleh umat muslim saat bertamu kerumah orang.

Dua kali salam tak ada jawaban, terlintas niat untuk pulang namun aku tidak menyerah dan mengucapkan salam yang sama sekali lagi. Aku berfikir mungkin tidak akan di jawab. Kubalikkan badan dan melangkah pulang.

Baru satu langkah terdengar samar-samar seseorang menjawab salamku. Ternyata itu mamanya nasir dan menyuruhku masuk. Aku pun maaf lahir batin dengannya. Berdasarkan info yang aku terima, nasir serta adik dan ayahnya masih berada di masjid belum pulang.

Aku pun dipersilahkan duduk dan menunggu diruang tamu. 20 menit aku menunggu nasir pun datang ternyata habis memperbaiki rantai karena busi motornya kotor. Kurang lebih begitulah intinya saat itu motornya konslet.

Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Nasir serta sudah menikmati buras kami pun pergi untuk kerumah teman dan guru. Kami pergi tak hanya berdua namun Basir dan juga Samsir yang tidak lain adalah adik dari Nasir juga ikut bersama kami.

Yang pertama kami datangi adalah rumah pak pendi guru TIK kami saat di madrasah tsnawiyah (MTs). Kebetulan saat kami tiba di situ juga sedang ada sekelompok manusia yang sedang bertamu. Lantas kami langsung ikut bergabung dan berbaur dengan mereka. Dan kami pun ikut bersalam-salaman.

Tapi sepertinya kami salah tempat duduk. Kami duduk di sudut yang berbeda dengan pak pendi. Kami pun menyusun strategi setelah 3 menit bisik-bisikkan akhirnya kami putuskan untuk pindah tempat duduk ke dekat pak pendi. Yang awalnya pak pendi cemberut tersenyum melihat kami.

Kami pun ngobrol saling menanyakan kabar serta sedikit canda tawa Ada hal menarik Ketika aku bertanya kepada Pak Pendi.

“pak kapan nikah” tanyaku dengan santun. Disaat yang bersamaan Bachir mencolek pahaku seperti seolah mengisyaratkan sesuatu namun aku tidak mengerti apa yang ia maksud dan Pak Pendi pun menjawab pertanyaanku.

“ Insya Allah tahun ini” Ucap pak Pendi memberi jawaban. Aku pun mengaminkannya, pak pendi pun membalikkan keadaan dengan pernyataan “kalo mau duluan silahkan gak usah nunggu saya”

Aku pun menjawab dengan jawaban yang sudah aku persiapkan jika ada pertanyaan semacam ini.

“belum ada wanita yang beruntung mendapatkan saya pak” ucapku dengan sombong.

Dengan cepat nasir menanggapi jawabanku dengan pernyataan yang membuatku sedikit terhempas.

“bukan belum ada yang beruntung tapi belum ada wanita yang sial” kata nasir dengan cengengesan.

Kami pun tertawa bersama-sama dan tak lama setelah itu kami saling kode dan pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Jajan lebaran yang disajikan cukup banyak namun kala itu aku hanya mengambil kacang dan segelas Aqua sambutan yang diberikan keluarga Pak Pendi pun cukup baik dan ramah.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke rumah Irfan Maulana salah satu anggota LGS sebelum sampai rumahnya kami melewati rumah kawan kami yaitu rachtian Anggi Wicaksono rumahnya terlihat sepi dengan pintu yang terbuka lebar kami berencana untuk mampir tapi kami pikir tak ada orangnya ternyata benar terakhir kami mendapat info Anggit masih berada di Jawa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Sesampainya di rumah Irfan terlihat Irfan merenung di depan pintu rumahnya sambil duduk jongkok dan memakan cemilan

Kala itu ada segerombol manusia yang keluar dari rumah Irfan sepertinya mereka juga bertamu dan pulang ketika kami datang kamipun berpapasan dengan segerombol manusia tersebut beberapa diantaranya ada yang kami kenal nah salah satunya adalah adik dari temanku yaitu Charles adik dari Wir Jaya yang saat ini masih ada di Jawa mengenyam pendidikan di pesantren.

Kami datang Irfan pun masuk ke dalam rumah seolah-olah akan menyambut kami namun begitu kami memasuki pintu rumahnya dia hanya duduk jongkok samping pintu sambil mengulurkan satu jarinya Mungkin ia tak mau bersalaman.

Tak terlalu lama kami berbincang-bincang di rumah Irfan kami pun memutuskan untuk lanjutkan perjalanan dan kami pun mengajak Irfan untuk ikut bersama kami.

Makanan yang disuguhkan juga beragam dan cukup banyak aku mengambil segelas teh Rio begitupun dengan yang lainnya ketika kami akan pamit akupun mengumpulkan sampah minuman kami dan semua itu ku serahkan kepada Irfan.

Perjalanan selanjutnya kami ke rumah Akbar teman MTS ku juga sahabatku kalau itu di rumahnya cukup ramai banyak orang dan kami disambut dengan baik usai salam-salaman kami duduk dan menikmati cemilan serta minuman yang ada di situ

beberapa lama kami menunggu Aku pun tak kunjung datang akhirnya Nasir mencoba untuk masuk rumah Akbar lebih dalam lagi dan menemukan Akbar di dalam sana. Rupanya Akbar tak mau keluar karena ia pemalu satu hal yang kutahu ya sudah tak seperti yang dulu.

Seperti ada sesuatu yang tertukar di antara kami dulu aku merokok dan sekarang tidak sementara dulu Akbar benci dengan rokok tapi sekarang perokok lagi lagi disitu aku menikmati kacang dengan aneka ragam makanan yang lain tidak semua aku coba aku hanya mengambil apa yang ingin aku makan saja.

Sudah ada empat Irfan Maulana pergi dari rumah Akbar meninggalkan kami semua entah dia mau kemana Aku pun tak tahu namun tak Berapa lama Ia pun kembali setelah Irfan kembali kami berencana melanjutkan perjalanan

Kami berhenti sejenak di rumah Nasir untuk merencanakan akan pergi kemana serta kami berencana mengajak Rizal teman kami namun ia sedang sibuk membantu orang tuanya yang sedang berjualan.

Kami pun tak bisa membujuk Irfan dan ia pun pulang meninggalkan kami dan kami pun pergi hanya ber lima sebelumnya ada salah satu teman basir sedang ikut dengan kami.

To be continue. ! ! !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar